Poetry Hujan: Hujan di hati

samar-samar kuingat hari itu
hari dimana kau meninggalkanku
ramai orang berkunjung dan membelaiku
ku tak tau maksud semua itu

hujan rintik di hari itu
dikirim Tuhan khusus buatmu
entah mengapa sungguh terlalu
menambah tusuk dalam kalbuku

masih kuingat nyanyian syahdumu
mengantarkan mimpi indah dalam lelapku
tak banyak yang kuingat saat-saat bersamamu
karna balita masih terpajang di umurku
namun dari cerita yang kutau
kau sungguh mengasihiku

kini, 24 tahun telah berlalu
persandingan menghampiriku
kuingin kenalkan dirinya padamu
meski hanya lewat hamparan pusaramu

ibu, tak ingin aku menambah pilu
dalam kesunyian yang kini membungkammu
cukuplah hujan yang deras dihatiku
mewakili basah pipiku


Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Iklan

PUISI HABIBIE

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

BUMI MENGADU


Langkahkan kaki menginjak bumi
Bumi menjerit lalu merintih
Tersayat sakit pilu dan pedih
Memohon kaki angkat kembali

Bumi mengadu pada sanga penguasa
Dimana tempat ilmu berada?
Agar bumi tak lagi ditindas
Menahan akal yang terus dirampas

Penguasa malah bercerita indahnya dunia
Pergi mengembara ke Cina dan Amerika
Membawa hati rakyat yang menderita
Tuk memenuhi kebutuhan jiwa dan rasa

Kini bumi meratap sedih
Mengharap aksi pejuang sejati
Meneriakkan hati yang perih
Bersorak tuk juangkan hak bumi

Wahai sang penguasa Negara!
Mengapa kau genggam kecintaan rakyat pada senja?
Mengapa kau biarkan debu mengotori udara?
Mengapa akal dunia kau hempaskan bersama materi belaka?
Dan mengapa pikiranmu harus dikorbankan dengan selera?

Bukankah engkau pemilik cinta?
Yang punya hati dan juga rasa?
Tak kah kau anggap bumi itu akal dunia?
Yang dapat terbang menghantar Negara keliling dunia?

Kini bumi tersenyum iba
Mengharap kasih dari sang penguasa.